Pada awalnya desa genting kecamatan
cepogo ini merupakan basis pemukiman penduduk umat Hindu. Walau letak desa
cenderung dekat dengan candi Borobudur yang merupakan tempat ibadah umat Budha,
namun pengaruh Hindu dari daerah prambanan lebih besar ada di desa Genting ini.
Hal ini di buktikan dengan adanya bangunan-bangunan berupa batu dan candi yang
kental dengan suasana Hindu di daerah dukuh Candi Petak, Desa Genting,
Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali. Walau banyak peninggalan Hindu di daerah
Desa Genting, kini mayoritas penduduk Desa Genting beragama Islam karena
mendapat pengaruh yang besar saat penyebaran agama Islam di Jawa pada Zaman
Wali Songo.
Saat
penjajahan Belanda Desa Genting merupakan perkebunan Belanda luas dan dihuni
oleh penduduk pribumi yang bekerja di
perkebunan tersebut. Pada zaman dahulu produksi cengkeh dan tembakau di daerah
Desa Genting sangatlah tinggi. Hal tersebut masih terlihat hingga sekarang
masih adanya perkebunan cengkeh dan kopi di Desa Genting ini walau kini mulai
terkikis dengan perkebunan sayur.
Pada
masa setelah Indonesia merdeka, Desa Genting sempat menjadi sorotan
Pemerintahan Indonesia karena merupakan daerah pemberontakan DI/TII basis Jawa
Tengah. Desa Genting sempat di juluki daerah “X” karena menjadi ancaman yang amat
serius bagi pemerintahan Indonesia pada waktu itu. Di Desa genting itu sendiri
pernah terjadi pristiwa sejarah besar yaitu tertembak matinya Bupati Boyolali
waktu itu yang juga sebagai anggota DI/TII di daerah Dukuh Candi Petak, Desa
Genting, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali yang menandai berakhirnya
Pemberontakan DI/TII di daerah tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar