Kamis, 27 November 2014

PENGAJARAN BERFIKIR DALAM PENDIDIKAN ILMU-ILMU SOSIAL

Menurut John Dewey, jika seseorang dihadapkan pada suatu masalah, maka ia menghendaki adanya suatu jalan keluar untuk memecahkan masalah tersebut. Dengan demikian dia akan menggunakan kemampuan otak untuk memecahkan itu dengan jalan memanfaatkan pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan. Maka proses itu dinamakan dengan berfikir. Kegiatan berfikir meliputi proses:
·         Menentukan hukum sebab akibat
·         Pemberian makna terhadap sesuatu yang baru
·         Mendeteksi keteraturan diantara fenomena yang ada
·         Penentuan kualifikasi
·         Menemukan ciri khas suatu fenomena
Pengajaran pendidikan ilmu sosial dapat dilakukan dengan studi kasus, isu-isu kontroversial, serta konsep.


1.   Studi kasus

·         Kasus merupakan suatu peeristiwa, kejadian, fenomena/situasi tertentu yang terjadi di tempat tertentu. Yang memiliki hubungan dengan aspek-aspek kehidupan manusia dimasa lalu, masa kini, maupun dimasa yang akan datang
·         Pengajaran studi kasus menuntut partisipasi aktif dari siswa dalam proses berfikir.

2.   Pengajaran melalui isu-isu controversial

·         Isu kontroversial merupakan sesuatu yang mudah diterima oleh seseorang atau kelompok tetapi mudah juga ditolak oleh orang atau kelompok lain yang membangkitkan kemampuan berfikir seseorang.

·         Pengajaran model ini sangat penting karena isu ini merupakan :
a.   Sesuatu yang dapat dijumpai dalam banyak kasus mengenai teori atau pendapat
b.   Melalui isu ini dengan pendapat yang berbeda akan timbul pendapat baru yang dipandang lebih baik, melalui proses analogis dan sintesis dalam berfikir.

3.   Konsep

·         Merupakan abtraksi kesamaan karakteristik dari sejumlah benda, fenomena, atau stimulus
·         Dengan mengajarkan konsep maka dapat dikembangkan kemampuan kognitif siswa dari yang paling rendah hingga yang paling tinggi. Pengajaran ini dapat dilakukan melalui dua pendekatan :
a.   Pendekatan deduktif
b.   Pendekatan induktif


KEMAMPUAN PROSES DALAM PENGAJARAN ILMU-ILMU SOSIAL
Kemampuan proses merupakan kemampuan seseorang dalam mendapat informasi, mengolah, menggunakan serta mengkomunikasikan hasilnya. Kemampuan proses terdiri atas kemampuan:
·         Mengumpulkan informasi data
·         Mengolah informasi
·         Memanfaatkan informasi
·         Mengkomunikasikan hasil
Bentuk pengajaran kemampuan proses antara lain :
1.   Pengajaran Ilmu Sosial Dengan Problem Solving (Pemecahan Masalah).
Bermanfaat untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam mengidentifikasi, kemampuan berfikir alternative, dan kemampuan mengambil keputusan daari alternative yang ada. Langkah-langkahnya:
·         Mengidentifikasikan masalah
·         Pengembangan alternatif
·         Pengumpulan data untuk menguji alternatif
·         Pengujian alternatif
·         Pengambilan keputusan

2.   Pengajaran Ilmu Sosial Dengan Inkuiri.

Proses ini berlandaskan masalah yang ada dalam disiplin ilmu dan bukan pada masalah yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Pengajaran ini memperhatikan proses pengumpulan data dan pengujian hipotesis. Langkah-langkahnya :

·         Perumusan masalah
·         Pengembangan hipotesis
·         Pengumpulan data
·         Pengolahan data
·         Pengujian hipotesis
·         Penarikan kesimpulan
PENGAJARAN NILAI DALAM PENDIDIKAN ILMU-ILMU SOSIAL
Beberapa model pengajaran nilai
1.   Bermain peran

·         Merupakan suatu proses belajar dimana siswa melakukan sesuatu yang dilakukan oleh orang lain. Siswa mencoba berfikir , berperasaan, dan bertindak, bukan sebakai dirinya sendiri melainkan sebagai orang lain yang diperankannya.
·         Bermain pean merupakan suatu model pengajaran untuk mengembangkan sikap, nilai, dan moral tertentu pada dirinya melalui peran yang dimainkannya.
·         Siswa diminta untuk berfikir, bertindak, serta bersikapsesuai dengan nilai-nilai moral yang diperankannya.



2.   Sosio Drama (Drama Sosial)

·         Perbedaan prinsip dengan bermain peran yaitu untuk bermain peran ruang lingkupnya lebih luas. Sedangkan drama sosial hanya membatasi diri pada permasalahan yang berkenaan dengan aspek-aspek sosial dalam masyarakat.

·         Drama sosial merupakan suatu model pengajaran untuk mengembangkan sikap, niai, dan moral tertentu pada diri siswa melalui peran yang dimainkan dalam suatu peristiwa sosial tertentu.


·         Dalam hal bermain drama sosial siswa dapat mengikuti nilai-nilai serta moral yang berlaku pada dirinya di dalam melihat serta memcahkan masalah yang dihadapi.

PERENCANAAN PENGAJARAN ILMU-ILMU SOSIAL
Faktor utamanya adalah faktor guru. Sebagai tenaga professional, guru merupakan pemegang kendali utama dalam proses pendidikan di unit pendidikan bahkan disuatu kelas. Dalam diri seorang guru bergabung unsure kemampuan teknis professional dan unsure rofesi non teknis dimana keduanya menunjukkan kualitas seorang guru.
Faktor professional non teknis seorang guru antara lain :
·         Kemampuan siswa
·         Keyakinan diri seorang guru sebagai pendidik
·         Kreatifitas guru
·         Kecintaan guru terhadap  disiplin ilmu yang diajarkannya
Aspek profesional nonteksnis merupakan aspek yang sukar dikembangkan karena berhubungan dengan masalah kepibadian seorang guru. Aspek sosial nonteknis seorang guru adalah aspek yang berkaitan dengan unsur-unsur afektif keprofesionalan seorang guru. Dalam aspek ini yang menonjol adalah motivasi, rasa tanggung jawab, kesadaran profesi, serta keinginan untuk melaksanakan profesi sebaik-baiknya.
EVALUASI PENDIDIKAN ILMU-ILMU SOSIAL
Evaluasi bertujuan untuk mengetahui kualitas pendidikan, kemampuan siswa, dan proses belajar siswa. Dengan evaluasi dapat diketahui kekuatan dan kelemahan dalam proses pembelajaran dan kekuatan / kelemahan siswa dalam belajar.
·         Evaluasi  adalah keputusan hasil belajar atau proses belajar ilmu-ilmu sosial yang didasarkan atas standard an kriteria yang digunakan sesuai dengan tujuan evaluasi

·         Tujuan dari fungsi evaluasi adalah :
·         Untuk menentukan tingkat keberhasilan yang telah dicapai dalam suatu kegiatan pendidikan (fungsi sumatif)
·         Untuk mengetahui kekuatan maupun kelemahan siswa dalam belajar dan mengetahui kekuatan maupun kelemahan proses pembelajaran (fungsi formatif).

·         Alat-alat evaluasi
Alat yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam suatu evaluasi:
·         Tes (sebagai alat pengukur data. Tes tertulis dapat dikembangkan dalam bentuk soal objektif maupun uraian)
·         Laporan tugas siswa
·         Catatan atau observasi guru atau siswa

·         Wawancara interview

Tidak ada komentar:

Posting Komentar