Dalam pembelajaran, terdapat
karakter-karakter siswa yang jauh lebih beragam. Siswa memang secara alamiah
memiliki karakteristik yang berbeda. Dan ragam karakteristik ini ternyata
mempengaruhi bagaimana hasil implementasi desain pembelajaran yang telah drancang oleh guru. Oleh karenanya mengenal
karakteristik siswa sangatlah penting dalam proses pembelajaran. Dengan
mengenal karakteristik siswa, maka dapat diketahui kualitas perseorangan dan
menjadi petunjuk dalam mengelola strategi pembelajaran. Penyusunan rancangan
pembelajaran selain mempertimbangkan teori belajar juga semestinya
memperhatikan karakteristik siswa yang akan menjadi sasarannya.
Setiap siswa dapat dipastikan telah
memiliki kemampuan awal sebelum mengikuti kelas anda. Dan dengan mengidentifikasi
kemudian memanfaatkannya maka proses belajar di kelas anda akan lebih bermakna.
Reigeluth, seorang pakar pendidikan mengidentifikasi 7 jenis kemampuan awal
yang dapat dipakai untuk memudahkan perolehan, pengorganisasian, pengungkapan
kembali pengetahuan baru :
1.
Pengetahuan bermakna tak terorganisasi (arbitrarily meaningfull knowledge),
sebagai tempat mengaitkan pengetahuan hafalan yang tak bermakna untuk
memudahkan retensi. Pengetahuan tak terorganisasi merupakan pengetahuan yang
sama sekali tidak ada kaitannya dengan pengetahuan baru yang akan dipelajari.
Sebagai kemampuan awal, pengetahuan jenis ini berguna untuk mengingat
pengetahuan-pengetahuan hafalan dan pengetahuan yang tak bermakna. Pengetahuan
bermakna tak terorganisasi dapat digunakan untuk membuat kaitan yang akan
memudahkan mengingat kembali pengetahuan baru bila diperlukan.
2.
Pengetahuan analogis (analogic knowledge), yang
mengaitkan pengetahuan baru dengan pengetahuan lain yang serupa dan berada di
luar isi yang sedang dibicarakan. Pengetahuan analogis serupa dengan
pengetahuan coordinate, kecuali bahwa pengetahuan analogis berada di
luar konteks yang akan dipelajari. Mengaitkan pengetahuan baru dengan pengetahuan
analogis siswa dapat memudahkan perolehan pengetahuan baru. Akan
bermanfaat apabila siswa telah berhasil belajar bagaimana menggunakan analogi
untuk memudahkannya dalam belajar, pengaitan tersebut juga dapat membantu pengintegrasian
struktur pengetahuan yang terpisah agar terorganisasi menjadi utuh.
3.
Pengetahuan tingkat yang lebih tinggi (superordinate knowledge),
yang dapat berfungsi sebagai kerangka cantolan pengetahuan baru. Dengan
kata lain, pengetahuan yang akan dipelajari dapat dipandang sebagai pengetahuan
yang lebih rinci jika dibandingkan dengan pengetahuan superordinate.
4.
Pengetahuan setingkat (coordinate knowledge), yang
dapat memenuhi fungsinya sebagai pengetahuan asosiatif /komparatif.
Pengetahuan ini merupakan pengetahuan yang memiliki tingkat keumuman atau
kekhususan yang sama dengan pengetahuan yang dipelajari. la juga harus erat
sekali terkait dengan pengetahuan yang akan dipelajari. Bila diungkapkan lebih
cermat, contohnya harus dapat dibedakan dengan contoh pengetahuan baru, dan
pengetahuan superordinatenya harus sama dengan pengetahuan superordinate
pengetahuan baru yang dipelajari.
5.
Pengetahuan tingkat yang lebih rendah (subordinate knowledge), yang
berfungsi untuk mengkonkritkan pengetahuan baru atau juga penyediaan
contoh-contoh.
6.
Pengetahuan tingkat yang lebih tinggi (superordinate
knowledge). Pengetahuan tingkat yang lebih rendah memiliki fungsi yang
sama dengan pengetahuan yang didapat dari pengalaman (experiential knowledge).
7.
Pengetahuan pengalaman (experiential knowledge), yang
memiliki fungsi sama dengan pengetahuan tingkat yang lebih rendah, yaitu untuk
mengkonkritkan dan menyediakan contoh-contoh bagi pengetahuan
baru. Pengetahuan pengalaman mengacu kepada ingatan seseorang pada
peristiwa atau objek khusus (diacukan sebagai contoh-contoh dalam teori
pembelajaran) dan yang disimpan dalam experiential data base. Perbedaan utama
antara pengetahuan pengalaman dengan pengetahuan tingkat lebih rendah adalah
bahwa pengetahuan pengalaman selalu mengacu kepada contoh atau kasus khusus, sedangkan
pengetahuan tingkat yang lebih rendah selalu merupakan pengetahuan yang dapat
digeneralisasi (seperti; konsep, prosedur, dan prinsip, masing-masing memiliki
lebih dari satu contoh).
Sangat penting bagi siswa anda untuk
mengorganisasi ingatan dimana pengetahuan baru dikaitkan dengan pengetahuan
lama, dan diintegrasikan ke dalam struktur kognitif yang sudah dimiliki
siswa. Strategi kognitif menyediakan cara-cara mengolah pengetahuan
baru, mulai dari penyandian, penyimpanan, sampai pada pengungkapan kembali
pengetahuan yang telah tersimpan dalam ingatan. Diantara beberapa kemampuan
awal, strategi kognitif memiliki cara kerja yang paling berbeda. Strategi
kognitif dapat membantu mekanisme pembuatan hubungan-hubungan antara
pengetahuan baru dengan pengetahuan yang sudah dimiliki siswa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar